Cyberbullying

Hello, welcome back

17 Agustus. Hari ini adalah hari kemerdekaan Indonesia secara "fisik". Tapi buat aspek lainnya apakah kita telah merdeka? Kalau dibicarain merdeka itu bisa bermacam-macam sih, ada yang merdeka dari utang, merdeka dari beban hidup, dst. Tapi hari ini aku coba mau share tentang cyberbullying. Kenapa aku mau bahas tentang ini? Soalnya
netijennn Endonesaah sekarang sukanya ngebully orang lewat socmed dan itu secara ngga langsung ngrampas kemerdekaan orang itu. Ngga tua ngga muda semuanya tukang bully... hehehe

Nah mungkin kalau yang dibully orang dewasa, walaupun bikin down tapi kita masih bisa menanggapi secara bijak dan rasional. Tapi gimana kalau ternyata anak-anak remaja yang saling bully membully?

Misalnya nih kasus si Sonya anak Medan itu. Dia dibully abis2an kan. Oke lah dia emang salah, tapi emang semudah itu ya ngejudge orang sedangkan kalau dilihat2 salah kita bisa aja lebih banyak dari salah dia?. Mungkin kita bilang "kita ngga bully dia kok." tapi kita nyebarin jelek-jeleknya dia lewat socmed kita. Tangan kita gatel klo ngga ngeshare berita yang jelek-jelek tentang orang. Boro-boro si Sonya, orang Presiden kita aja kalau bisa kita bully abis-abisan lewat media sosial. huft. Entahlah netijen Endonesah ini makan apah jadi sok benar sendiri kayaknya.

Dengan nulis gini bukan berarti aku orang yang bener loh ya. Honestly aku pernah jadi korban bullying dan juga pernah yang tukang bully orang juga. I'm a big sinner. Dan untuk jaman now alias jaman milenial, pemicu ngebully orang itu kebanyakan dari internet misal ngegosipin lewat WA, share berita-berita buruk tentang orang. Thats why aku pengen berbagi tentang research Cyberbullying kali ini.

Apa sih Cyberbullying?

Cyberbullying itu dari kata "Cyber" dan kata "Bullying". Cyber artinya dunia maya dan Bullying itu Penindasan. So Cyberbullying itu adalah semacam penindasan yang dilakukan lewat perangkat digital macem smartphone, komputer, tablet, etc dan bisa terjadi melalui SMS, Email, WA, BBM, Line, Facebook, IG, Forum, atau aplikasi-aplikasi lainnya dimana orang dapat melihat, ikutan atau berpartisipasi, atau berbagi konten.

Nah Cyberbullying ini mencakup pengiriman, posting, atau berbagi konten negatif, berbahaya, salah/hoax, atau jahat tentang orang lain yang bikin orang lain yang kita gosipin itu jadi malu atau merasa dihina. Sometimes cyberbullying ini kelewat batas yang akhirnya berujung kriminal.

Cyberbullying ini dapat membahayakan reputasi online semua orang yang terlibat - bukan hanya orang yang ditindas, tetapi mereka yang melakukan bullying atau berpartisipasi di dalamnya. Cyberbullying memiliki tergolong unik. Kenapa unik? karena dapat:
  • Persistent - Perangkat digital menawarkan kemampuan untuk berkomunikasi secara langsung dan terus menerus 24 jam sehari, sehingga sulit bagi orang-orang yang mengalami cyberbullying ini untuk cari pertolongan atau cerita ke orang lainnya, apalagi anak-anak. Kebanyakan orang yang kena cyberbullying menyimpan sendiri masalahnya.
  • Permanen - Sebagian besar informasi yang disampaikan secara elektronik bersifat permanen dan umum, jika tidak dilaporkan dan dihapus. Reputasi online negatif, termasuk bagi mereka yang melakukan bully, dapat memengaruhi penerimaan perguruan tinggi, pekerjaan, dan bidang kehidupan lainnya.
  • Sulit untuk Diperhatikan - Karena guru/orang tua/  teman/ keluarga mungkin tidak mendengar atau melihat penindasan maya terjadi, itu lebih sulit untuk dikenali.


Cara-cara Cyberbullying
Banyak sih cara-cara yang dipake orang-orang buat Cyberbullying, misalnya:
  • Memposting komentar atau rumor tentang seseorang yang jahat, menyakitkan, atau memalukan di media digital manapun.
    Misal: Sekelompok siswa dapet masalah di sekolah karena mabuk, dan akhirnya buat menyelamatkan diri menuduh seorang cewek yang ngga tau apa2 bahwa si cewek ini nglaporin mereka ke Kepsek. Mereka mulai mengirim broadcast tentang cewek ini siang malam, dan memposting pesan2 yang penuh kebencian di medsos. Siswa lain  yang melihat pesan mereka akhirnya ikut gabung buat ngehina-hina si cewek. Dia (si cewek ini) terus-menerus ditindas melalui teks, dan langsung di sekolah. Dia akhirnya menutup akun media sosialnya dan mengubah nomor teleponnya. Namun, penindasan di sekolah terus berlanjut.
  • Mengancam menyakiti seseorang atau menyuruh mereka bunuh diri.
    Misal: si Budi itu punya kekurangan fisik dan akhirnya orang-orang lain sering ngejek kekurangan fisik si Budi ini. Orang-orang lain bilang ke Budi, "Mendingan lu bunuh diri aja ketimbang hidup tapi kayak gitu".
  • Memposting gambar atau video yang memalukan, atau jahat atau kejam.
    Misal: Seorang cewek mengirim foto telanjang dirinya kepada pacarnya saat mereka pacaran. Setelah mereka putus, si cowok membagikan foto itu dengan anak-anak lain, yang kemudian memanggilnya nama-nama yang menyakitkan dan menghina si cewek melalui teks atau medsos.
  • Berpura-pura menjadi orang lain secara online untuk mengumpulkan atau memposting informasi pribadi atau palsu tentang orang lain.; fake banget ini orang.
    Misalnya: Bunga bikin akun socmed palsu dengan nama Aldo. Si Bunga ini cari Mawar lewat socmed dan bikin Mawar ini pacaran online sama "si cowok" alias Aldo alias Bunga sendiri. Akhirnya si Bunga kan tau semua detail pribadinya si Mawar. Mulai deh Bunga share berita-berita tentang Mawar ke orang-orang dan orang-orang mulai bully si Mawar.
  • Memposting nama atau komentar yang mengandung kebencian, atau konten tentang ras, agama, etnis, atau karakteristik pribadi lainnya secara online.
    Misal: Orang-orang jaman Pilkada DKI menyudutkan Pak Ahok karena etnis dan agamanya.
  • Membuat halaman web yang berarti atau menyakitkan tentang seseorang.
  • Doxing yaitu bentuk pelecehan online yang digunakan untuk membalas dendam dan untuk mengancam dan menghancurkan privasi individu dengan membuat informasi pribadi mereka publik, termasuk alamat, jaminan sosial, kartu kredit dan nomor telepon, tautan ke akun media sosial, dan data pribadi lainnya.
    Misal: Seorang remaja laki-laki memposting komentar di forum games, mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap fitur dan taktik permainan tertentu. Pengguna lain tidak setuju dengan dia di forum, lalu mencari informasi anak itu secara online dan memposting alamat, alamat email, dan tautan media sosialnya di komentar lain. Anak itu kemudian menerima banyak email dan pesan dari orang asing yang mengancam akan datang ke rumahnya dan menyerangnya, serta menghalanginya dari permainan.
Gimana Data Cyberbullying di Indonesia ?

Menurut survei global yang diadakan oleh Latitude News, Indonesia merupakan negara dengan kasus bullying tertinggi kedua di dunia setelah Jepang. Kasus bullying di Indonesia ternyata mengalahkan kasus bullying di Amerika Serikat yang menempati posisi ketiga. Ironisnya, kasus bullying di Indonesia lebih banyak dilakukan di jejaring sosial. Sebagai negara dengan jumlah populasi terbanyak keempat di dunia, Indonesia memiliki jumlah pengguna Facebook terbesar ketiga di dunia. Selain itu, Indonesia juga ‘menyumbang’ 15 persen tweet setiap hari untuk Twitter. Bahkan, Badan Pusat Statistik mencatat pada tahun 2006, angka cyberbullying yang terjadi di mencapai angka 25 juta kasus di mulai dari kasus dengan skala ringan sampai dengan skala berat. Data yang diperoleh UNICEF pada tahun 2016, sebanyak 41-50% remaja Indonesia dalam rentang usia 13-15 tahun pernah mengalami tindakan Cyberbullying.
Tidak menutup kemungkinan toh di tahun-tahun selanjutnya dengan terbukanya akses semua media, maka angka presentase ini bisa naik.


Cara untuk Mencegah Cyberbullying (Special buat Ortu)

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Ini tips yang penting buat Orang Tua apalagi yang punya anak ABG. Sebagai orang tua, kita kudu waspada sama yang dilakukan anak-anak secara online apalagi anak-anak jaman now masih kecil aja uda dibawain gadget canggih.

Seorang anak itu bisa terlibat Cyberbullying dengan berbagai cara. Anak bisa diganggu, ditindas, atau malah yang menyaksikan bullying. Ortu, guru ngga tau karena semua lewat media online atau aplikasi yang dipake oleh anak. Semakin banyak platform digital yang digunakan seorang anak, semakin banyak peluang untuk terkena potensi penindasan maya (cyberbullying). Jadi plis jadi orang tua anak-anak milenial jangan gaptek yaaa..... 

Beberapa tanda peringatan bahwa seorang anak mungkin terlibat dalam Cyberbullying adalah:
  • Terlihat meningkatkan atau menurunkan penggunaan perangkat, termasuk SMS.
  • Seorang anak menunjukkan respons emosional (tawa, marah, kesal) terhadap apa yang terjadi di perangkat mereka.
  • Seorang anak menyembunyikan layar atau perangkat mereka saat ada orang lain yang dekat, dan menghindari diskusi tentang apa yang mereka lakukan di perangkat mereka.
  • Akun media sosial dimatikan atau yang baru muncul.
  • Seorang anak mulai menghindari situasi sosial, bahkan situasi yang dinikmati biasanya di masa lalu.
  • Seorang anak menjadi ditarik atau tertekan, atau kehilangan minat pada orang dan kegiatan.

Apa yang Harus Dilakukan  Ketika Cyberbullying Terjadi? (Special buat Ortu)

Kalau orang dewasa mulai lihat ada tanda-tanda peringatan seperti yang uda dijelasin di atas dimana kemungkinan ada anak yang ikut Cyberbullying, coba ambil langkah untuk menyelidiki perilaku digital anak itu. :
Cyberbullying adalah bentuk bullying, dan orang dewasa harus mengambil pendekatan yang sama untuk mengatasinya

  1. Peka dan Kenali - Kenali apakah telah terjadi perubahan suasana hati atau perilaku dan telusuri apa penyebabnya. Coba tentukan apakah perubahan ini terjadi di sekitar penggunaan perangkat digital mereka oleh anak-anak.
  2. Bicara - Ajukan pertanyaan untuk mempelajari apa yang terjadi, bagaimana itu dimulai, dan siapa yang terlibat.
  3. Dokumentasi - Simpan catatan tentang apa yang terjadi dan di mana. Kalau perlu ambil screenshot dari Smaprtphone atau foto dari bukti bulliyng ini. Sebagian besar undang-undang dan kebijakan mencatat bahwa Bullying adalah perilaku yang berulang, sehingga cukup bijak untuk kita bantu dokumentasi.
  4. Saatnya Laporan - Sebagian besar platform media sosial dan sekolah memiliki kebijakan dan proses pelaporan yang jelas. Jika teman sekelas melakukan cyberbullying, laporkan ke sekolah. Orang dewasa juga dapat menghubungi platform aplikasi atau media sosial untuk melaporkan konten yang menyinggung dan menghapusnya. Jika seorang anak telah menerima ancaman fisik, atau jika potensi kejahatan atau perilaku ilegal terjadi, laporkan ke polisi.
  5. Cari Dukungan - Pers Media, Mentor, atau Orang Dewasa lainnya macem Pendeta, Ustad, dst  terkadang dapat mempengaruhi publik untuk secara positif ketika ada postingan negatif tentang anak. Orang-orang ini bisa memberikan komentar positif tentang orang yang ditargetkan untuk bullying untuk mencoba mengalihkan pembicaraan ke arah yang positif. Ini juga dapat membantu menjangkau anak yang melakukan bullying dan sasaran bullying untuk mengungkapkan kekhawatiran. Jika memungkinkan, cobalah untuk menentukan apakah dukungan yang lebih profesional diperlukan bagi mereka yang terlibat, seperti berbicara dengan penasihat konseling atau profesional kesehatan mental.
Saran buat Netizen Indonesia

Ya saranku buat netijenn tercinta karena aku juga netizen adalah sharing berita apapun yang positif aja, jangan yang negatif2. Kasih itu menutupi kekurangan seseorang bukan malah mengeksposnya. Kalau ada temen yang melakukan kesalahan, cobalah tegur empat mata dulu, bukan malah ngeshare salah-salahnya ke orang-orang lain yang akhirnya berujung cyberbullying.

Selain itu kadang kita ngebully orang juga karena ikut2an temen. Itu ngga keren sama sekali!. Supaya kita diterima oleh "teman-teman yang kita mau", kita jadi ikutan ngebully orang padahal sebelumya kita ngga pernah ada masalah sama sekali sama orang yang kita bully. Ngakunya sih biar sama rasa sama rasa, tapi ngga gitu caranya. Kalau empati sama temen bukan dengan cara nindas orang lain.

Kadang juga kita ngebully orang yang bikin kita kesel dan kita nyebarin ke temen2nya. Tapi sadar ngga sih kalau itu bikin orang yang kita bully jadi kehilangan kemerdekaannya. Makan jadi takut, nongkrong jadi takut. Secara ngga sadar kita jadi penjajah.

Otak dan pemikiran manusia itu unik. Beda satu sama lain. Apa yang kita anggap bener ngga musti menurut orang lain bener. Makanya urusin urusan sendiri aja lah, ngga perlu ngurus urusan orang lain. Stay Happy aja! Yang penting kita Happy...

Emang sih kadang kita masih suka "eh kelepasan Nyinyir", ya uda kita mulai kontrol diri sendiri ya.. istilah kerennya "self-control".

Salam STOP CYBERBULLYING! Okee.. CU on next post... Semoga menjadi berkat yaa...

Sumber: dari berbagai sumber




Komentar

Postingan Populer