Vaginismus Nostalgia


Hari ini adalah hari tepat ulang tahun pernikahan ketiga aku dan suami. Menilik perjalanan sejak awal menikah sampai hari ini, banyak halangan rintangan yang kami hadapi, termasuk karena perbedaan karakter, latar belakang, dsb.

Image by Hasty Words from Pixabay
Menikah itu susah, bagaimana menyatukan 2 kepribadian yang berbeda satu sama lain. Proses itulah yang harus dihadapi, bagaimana seorang istri diuji ketika suami di dalam kelemahan dan sebaliknya  seorang suami pun diuji oleh istri ketika dalam kelemahannya dan itu yang dihadapi oleh kami berdua. Aku harus diuji mengenal karakter suami dengan semua pemikirannya.

Sejak awal menikah salah satu hambatan terbesar dalam hubungan kami adalah penyakit Vaginismus yang tanpa aku sadari ternyata aku derita sejak awal. Hal ini membuat hubungan dengan suami jadi suam-suam kuku alias datar tapi penyakit ini juga yang menguji cerita kami berdua. Banyak penderita vaginismus yang tertutup dan tidak berani bercerita kalau ada yang salah dengan dirinya. Akhirnya penyakit ini banyak menjadi ujung pangkal perceraian atau perpisahan.

Aku pun dulu seperti itu. Ketakutan dicaci dimaki orang masuk dalam sukmaku. Terkungkung, tersudut, semuanya hanya bisa aku pikirkan tanpa tahu jalan keluarnya. Kenapa aku ngga bisa? Kenapa aku seperti ini? Bahkan ketika aku memeriksakan diri ke dokter, cacian pernah kuterima.

Ini ceritaku mengenai perjuangan menghadapi penyakit ini:
Part 1 dan Part 2

Puji Tuhan, Tuhan telah memberikan kesembuhan dan hadiah dalam pernikahan kami.

Nah hari ini, salah satu pejuang vaginismus membuat lagu ini. So far aku langsung nangis begitu denger lagu ini pertama kali. Lirik lagunya, melodinya sesuai banget sama kegalauanku saat masih bergumul dengan penyakit ini:


Ini keterangan di youtubenya:

Sebuah lagu yang ditulis oleh Yuanita Meilia, pada saat ia menjadi vaginismus survivor. Lagu ini mewakili perasaan para vaginismus survivor.

Bagaimana mereka mengalami kegalauan hati pada saat mendapati dirinya berbeda dengan perempuan pada umumnya. Bukan ditolong, namun sering disudutkan , dianggap tidak mau, bukan tidak mampu.

Semoga melalui lagu ini mampu meningkatkan awareness masyarakat Indonesia terhadap penyakit vaginismus.

Support #vaginismuscampaign dengan download single lagu "Hatiku Untukmu" melalui digital platforms iTunes, Spotify, Apple Music, Google Play, & Deezer
#vaginismusbisasembuh



Sebenarnya ini lebih menceritakan nostalgiaku mengenai penyakit ini, bagaimanapun jadi seorang wanita harus kuat dan jangan takut menghadapi apapun. GBU :)

Komentar

Postingan Populer